Fakir miskin != Pengemis (Fakir miskin tidak sama dengan pengemis)
Fakir miskin adalah mereka yang tetap berusaha bekerja dengan cara yang halal untuk mendapatkan rejeki (uang) dengan tidak meminta, sekalipun hasil yang didapatkan sangat sedikit. Sedangkan pengemis, mereka yang tak mau berusaha bekerja cenderung meminta-minta untuk mendapatkan uang.
Frequently Asking Question (FAQ):
A : Lho, beramal kok dilarang?
B : Bukan dilarang, tapi lebih baik beramal kepada yang lebih berhak
A : Tapi kan yang penting niatnya?
B : Niatnya memang bagus, tapi caranya yang salah
A : Apanya yang salah?
B : Jelas salah. Dengan memberi uang secara langsung kepada pengimis dijalan, itu berarti kita sudah mengajarkan kemalasan kepada mereka. Mengajarkan kalau mencari uang hanya harus meminta, tanpa perlu bekerja
A : Mengajarkan kemalasan? Kok bisa?
B : Mengajarkan kemalasan, karena pada dasarnya, mendapatkan uang itu perlu usaha. Coba perhatikan, berapa banyak pengemis yang berpikir: "Buat apa bekerja? Toh penghasilan dari mengemis saja sudah besar"? Itu gara-gara kita terlalu muda memberikan uang kepada pengemis...
A : Bagaimana dengan pengemis tua atau memiliki cacat fisik yang nampak nggak mampu lagi bekerja?
B : Banyak kok orang tua atau orang yang memiliki cacat fisik yang masih mau bekerja. Ini bukan soal usia. Bukan pula soal kekurangan fisik. Ini soal mau berusaha atau nggak...
A : Terus, bagaimana biar tetap bersedekah?
B : Lebih baik salurkan sedekah melalui lembaga-lembaga resmi dan terpercaya...
A : Tapi kan ribet ....
B : Kalo ngotot ingin bersedekah dijalan, lebih baik lakukan dengan membeli sesuatu dari pedagang kecil yang nampak nggak laku (bahkan meski kita nggak butuh barangnya). Anggap aja bukan beli barangnya, tapi kita menghargai usaha dan kerja kerasnya. Itu jauh lebih bermanfaat ketimbang ngasih duit ke pengemis yang mayoritasnya adalah pemalas yang cenderung menipu....
Sumber:
http://behance.vo.llnwd.net/profiles21/3106145/projects/11665283/a58323c80063233450c93c43dd7ba402.jpg
Saturday, October 26, 2013
Wednesday, September 18, 2013
Sekolah 5 Senti
Sumber: Jawa Pos halaman Ekonomi Bisnis
Setiap kali berkunjung ke Jerusalem, saya sering tertegun saat melihat orang-orang Yahudi ortodoks yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan Tiongkok di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaina ala Mao. Di Tiongkok, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama dengan orang Yahudi yang baru terlihat happy saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itu pun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis didepan tembok yang banyak celahnya diisi kertas-kertas bertulisan harapan dan doa.
Senin, 13 Februari 2012
Penulis : Renaldkasali
- Guru Besar Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi
Setiap kali berkunjung ke Jerusalem, saya sering tertegun saat melihat orang-orang Yahudi ortodoks yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan Tiongkok di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaina ala Mao. Di Tiongkok, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama dengan orang Yahudi yang baru terlihat happy saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itu pun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis didepan tembok yang banyak celahnya diisi kertas-kertas bertulisan harapan dan doa.
Perhatian saya tertuju
pada jas hitam, baju putih , janggut panjang, dan topi kulit berwarna hitam
yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Menurut Dr Stephen Carr Leon yang
pernah tinggal di Jerusalem, saat istri mereka mengandung, para suami akan
lebih sering berada dirumah untuk mengajari istri rumus-rumus matematika atau
bermain musik. Mereka ingin anak-anak mereka secerdas Albert Einstein atau
sehebat violis terkenal Itzhak Perlman.
Saya kira bukan hanya
orang Yahudi yang ingin anak-anaknya menjadi pintar. Di Amerika Serikat saya
juga melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar bisa
menyekolahkan anaknya. Di Bekasi saya pernah bertemu orang Batak yang membuka
usah tambal ban di pinggir jalan. Begitu saya intip rumahnya, didalam bilik
yang terbuat dari bambu dan gedek, saya melihat seorang anak usia SD sedang
belajar sambil minum susu di depan lampu teplok yang diterpa angin.
Tapi, tahukah Anda,
orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti?
Dari Atas atau Bawah?
Sekolah 5 senti
dimulali dari kepala bagian atas. Supaya fokus, saat bersekolah, tangan harus
dilipat, duduk tenang, dan mendengarkan. Setelah itu, apa yang dipelajari di bangku
sekolah diulang di rumah, ditata satu per satu seperti melakukan filing supaya tersimpan teratur di otak.
Orang-orang yang
sekolah 5 senti mengutamakan rapor dan transkip nilai. Itu mencerminkan
seberapa penuh isi kepalanya. Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling
jauh menyerap hingga 5 sentimeter ke bawah.
Tetapi, ada juga
yang mulainya bukan dari atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal 50
senti, hingga ke lutut. Kata Bob Sadino,
itu cara goblok. Enggak usah mikir,
jalan aja, coba rasain, lama-lama otomatis naik ke atas. Cuma, mulai dari atas atau
dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal.
Bergantung berhentinya sampai di mana.
Ada orang yang
mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya menjadi akademisi yang
steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bis ngomong, menulis, apalagi
memberikan contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti
sampai dengkul saja, seperti pengayuh becak. Keduanya sama-sama berat menjalani
hidup kendati yang pertama bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4,0.
Supaya bisa menjadi
imigran unggul, para imigran Arab, Yahudi, Tiongkok, dan India di Amerika
menciptakan kondisi agar anak-anak mereka tidak sekolah 5 senti, tetapi sekolah
2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. Pintar itu bukan hanya untuk
berpikir, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke
kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan,
kaki, dan mulut sama-sama disekolahkan dan sama-sama harus bekerja.
Sekarang saya jadi
mengerti mengapa orang-orang Yahudi mengirim anak-anaknya ke sekolah musik atau
mengapa anak-anak orang Tionghoa ditugaskan menjaga toko, melayani pembeli
selepas sekolah.
Sekarang ini
Indonesia sedang mengalami banyak masalah karena sebagian besar guru dan
dosennya, maaf, hanya pintar 5 senti dan mereka mau murid-muridnya sama dengan
mereka. Guru besar ilmu teknik (sipil) yang pintarnya hanya 5 senti hanya asyik
membaca berita saat mendengar jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi
gempa di Padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan
berangkat meninjau lokasi, memeriksa, dan mencari penyebabnya. Mereka menulis
karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang
ditemukan di lapangan.
Yang sekolah 5
senti hanya bisa berkomentar atas komentar-komentar orang lain. Sedangkan yang
pandainya 2 meter cepat kaki dan ringan tangan. Sementara itu, yang pandainya
dari bawah dan berhenti sampai didengkul
hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohkan orang-orang pintar, padahal
usahanya banyak masalah.
Saya pernah bertemu
dengan orang yang memulainya dari bawah, dari dengkulnya, lalu bekerja di perusahaan
tambang sebagai tenaga fisik lepas pantai. Walau sekolahnya susah, ia terus
menabung sampai akhirnya tiba di Amerika Serikat. Di sana ia hanya tahu
Berkeley University dari koran yang menyebut asal sekolah para ekonom terkenal.
Tetapi, karena
bahasa Inggris dia buruk dan pengetahuannya kurang, ia beberapa kali tertipu
dan masuk ke kampus Berkeley yang sekolahnya abal-abal. Bukan Berkeley yang
menjadi sekolah para ekonom terkenal. Itu pun baru setahun kemudian ia sadari,
yaitu saat duitnya habis. Sekolah tidak jelas, uang pun tak ada, ia harus
kembali ke Jakarta dan bekerja lagi di riglepas
pantai.
Dua tahun kemudian
orang ini kembali ke Berkeley dan semua orang terkejut, kini ia bersekolah di
business school yang paling bergengsi di Berkeley. Apa kiatnya? “Saya datangi
dekannya dan saya minta diberi kesempatan. Saya katakan, saya akan buktikan
saya bisa menyelesaikannya. Tetapi, kalau tidak diberi kesempatan, bagaimana
saya membuktikannya?”
Teman-temannya
bercerita, sewaktu ia kembali ke Berkeley, semua orang Indonesia bertepuk
tangan karena terharu. Anda mau tahu di mana ia berada sekarang? Setelah meraih
gelar MBA sari Berkeley dan meniti karir sebagai eksekutif, kini orang hebat
ini menjadi pengusaha dalam bidang energi yang ramah lingkungan, besar, dan
inovatif.
Saya juga bisa
bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama dengan Anda,
tetapi mereka tidak hanya pintar bicara, melainkan juga berbuat, menjalankan
apa yang dipikirkan dan sebaliknya.
Maka jangan percaya
kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya.
Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga tidak
masalah. Yang penting jangan berhenti hanya 5 senti atau 50 senti. Seperti otak
orang tua yang harus dilatih, fisik anak-anak muda juga harus disekolahkan.
Dan, sekolahnya bukan di atas bangku, tetapi ada di alam semesta, berteman debu
dan lumpur, berhujan dan berpanas-panas, jatuh dan bangun.
Growth Mindset
Sumber:
Jawa Pos halaman Ekonomi Bisnis
Senin, 13 Februari 2012
Penulis : Renaldkasali - Guru
Besar Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi
Sabtu lalu (11/2) sekitar
seribu orang mengikuti yudisium di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).
Mereka terdiri dari lulusan S-1, S-2, dan S-3. Di antara mereka ada 40 anak didik
saya di MMUI yang lulus dengan prestasi cumlaude,
dan dua diantaranya lulus dengan IPK sempurna (4,0). Bahkan, salah seorang
yang lulus dengan IPK sempurna itu (keduanya perempuan) berusia paling muda (21,5
tahun).
Tetapi, sepulang saya dari
acara yudisium, saya menerima sebuah release terbaru yang dikeluarkan oleh FBI
tentang latar belakang dan perilaku orang-orang terkenal. Salah satunya siapa
lagi kalau bukan Steve Jobs. Laporan mengenai Steve Jobs terbaca jelas, ditulis
oleh analis yang terkesan tidak senang terhadap mendiang (wajar, karena menurut
orang dalam Apple, petugas FBI yang ditugasi mewawancarai dibuat Jobs harus
menunggu tiga jam sebelum diterima). Namun demikian, penulisnya berusaha
memberikan data-data objektif sehingga terkesan Jobs bukan seorang yang cerdas.
“Meski terkenal, ia ternyata
hanya punya indeks prestasi kumulatif 2,65 saat duduk di tingkat SLTA,” ujar
laporan itu. Angka tersenut terlihat objektif dan tidak diambil dari pemikiran penulis.
Kalau Anda membaca report itu jauh
sebelum Jobs dikenal, mungkin Anda termasuk orang yang menilai Jobs tidak
cerdas. Tetapi, karena kita membacanya sekarang, paling Anda mengatakan apa
urusan IPK dengan karya yang sudah dibangun seseorang. Bukankah impact jauh lebih penting daripada paper dan IPK?
Seperti yang pernah saya tulis
pada kolom di Jawa Pos setahun yang
lalu, manusia memiliki dua jenis midset, yaitu growth mindset dan fixed
mindset. Orang-orang yang memiliki setting-an piklran tetap (fixed mindsed) cenderung sangat
mementingkan ijazah dan gelar sekolah, sedangkan mereka yang tumbuh (growth mindset) tetap menganggap diri
mereka “bodoh”.
Bagi mereka, ijazah dan IPK
hanya langkah kemarin, sedangkan masa depan adalah soal impact apa yang bisa Anda berikan atau lahirkan. Maka, kepada
mereka yang pernah belajar dengan saya selalu saya tegaskan, pintar itu bagus,
tetapi impact jauh lebih penting.
Celakanya, universitas banyak
dikuasai orang-orang yang bermental ijazah dan asal sekolah sehingga mereka
terkurung dalam penjara yang mereka buat sendiri, yaitu fixed mindset. Bagi mereka, impact
itu sama dengan paper atau kertas
karya, terlepas dari apakah bisa dijalankan atau tidak.
Kualitas Intake
Jadi, akhir pekan kemarin
pikiran saya terbagi dua. Di satu pihak saya senang memiliki anak-anak yang
cerdas, namun di pihak lain saya gelisah kalau mereka yang ber-IPK tinggi itu
produk setting-an tetap. IPK tinggi tetapi terlalu membanggakan jejak sejarah:
ijazah.
Karakter orang-orang settingan
tetap itu, menurut Carol Dweck, antara lain, adalah menolak tantangan-tantangan
baru, menganggap kerja keras sia-sia, dan tidak senang menerima kritik (umpan
balik negatif). Juga, bila ada orang lain yang lebih hebat darinya, ia sangat
sinis dan menganggap mereka sebagai ancaman. Orang-orang seperti itu biasanya
menjadi arogan dan sering membanggakan “apa yang sudah ia capai”. Prestasi
akademis pada masa lalu bisa menjadi pemicu.
Padahal, kita semua butuh orang
pintar. Bahkan, di sebuah sekolah perempuan saya membaca kalimat ini: Beauty is nothing without brain. Benar,
cantik saja tidak berarti apa-apa bila tidak cerdas. Tetapi, studi yang
dilakukan Dweck memberikan jawaban yang melengkapi: Pintar yang kita butuhkan
bukanlah pintar yang sudah selesai, melainkan yang di-setting untuk tumbuh (growth
mindset).
Apa ciri-ciri mereka? Mereka
itu merasa kualitas kecerdasannya belum apa-apa. Mereka menerima
tantangan-tantangan baru, menganggap kerja keras penting., menerima feedback negatif untuk melakukan
koreksi, dan bila ada pihak yang lebih hebat darinya, ia akan menjadikan orang
tersebut sebagai tempat belajar.
Orang-orang seperti itulah yang
menjadi sasaran untuk direkrut. Maka, di MMUI seperti juga di Harvard, kami tidak
terlalu mengandalkan tes-tes tertulis sebagai segala-galanya. Nilai akademis
masa lalu mereka boleh tinggi, tetapi kami dalami dalam wawancara yang
dilakukan orang-orang berpengalaman. Dari situ kami sering mendapatkan insight, bahkan tidak jarang orang yang
memiliki hasil tes tinggi terpaksa digugurkan karena mereka terlanjur terkunci
dalam ruang gelap yang di-setting tetap.
Tetapi apalah arti semua itu
kalau kita tidak berani mengubah mereka? Itulah tugas kami sebagai pendidik,
merombak cara berpikir agar anak didik tumbuh, bukan sekadar mendapat ijazah.
Jadi, ke-40 anak muda yang lulus cumlaude
itu tentu masih ingat bahwa musuh
besar mereka adalah kebanggaan yang berlebihan terhadap prestasi yang sudah
dicapai kemarin.
Ke depan Indonesia butuh lebih
banyak manusia yang adaptif, bukan orang-orang kaku yang merasa pintar sendiri.
Untuk melahirkan manusia-manusia unggul, diperlukan kualitas intake yang baik, disamping proses yang
mampu menempa mereka menjadi insan yang tumbuh.
Maka, proses seleksi sangat
penting, di awal, di tengah, dan di akhir. Bila dulu saya gelisah memandang
lulusan yang meraih gelar cum laude yang
hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri, sekarang saya bisa bernapas lega
karena Dweck telah membukakan jalan bahwa itu bisa diatasi dengan setting-an
pikiran yang tepat.
Saturday, September 14, 2013
Kalau Cinta Jangan Marah by April
Satu hati, satu jiwa
Takkan mungkin pernah terpisahkan lagi
Walau berjuta rintangan menghalang
Aku tetap milikmu
Ku yakini cinta kita
Takkan jadi penghalang yang berarti
Untuk mewujudkan impian kita‘tuk selamanya ohhh..
Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan
Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu
Ku yakini cinta kita
Takkan jadi penghalang yang berarti
Untuk mewujudkan impian kita‘tuk selamanya ohhh..
Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan
Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu
Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan
Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu
Kalau cinta jangan marah
ini link youtube nya: enjoy it ^^
http://www.youtube.com/watch?v=UsjYzbc6Pz4
Takkan mungkin pernah terpisahkan lagi
Walau berjuta rintangan menghalang
Aku tetap milikmu
Ku yakini cinta kita
Takkan jadi penghalang yang berarti
Untuk mewujudkan impian kita‘tuk selamanya ohhh..
Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan
Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu
Ku yakini cinta kita
Takkan jadi penghalang yang berarti
Untuk mewujudkan impian kita‘tuk selamanya ohhh..
Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan
Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu
Kalau cinta jangan marah
Jangan ragukan cintaku
Ku tak mau kau membisu
Marilah kita bicarakan
Kalau cinta jangan marah
Aku takut orang lain
Yang mencuri hatiku dari sisimu
Kalau cinta jangan marah
ini link youtube nya: enjoy it ^^
http://www.youtube.com/watch?v=UsjYzbc6Pz4
Tuesday, September 10, 2013
Basic Concept DC Circuit
Lagi ada waktu luang, saya coba menuliskan kembali apa
yang saya dapatkan kemarin dari kelas pertama saya ya, Rangkaian Listrik.
Semoga bermanfaat : )
Sebelum berbicara lebih jauh tentang rangkaian listrik,
baik rasanya bila kita memiliki konsep dasar dari rangkaian listrik itu
sendiri. Karena pada pertemuan kuliah
saya yang pertama saya baru di bawakan materi sampai daya serap dan daya yang
dikirim, jadi saya akan mulai dari jenis arus sampai daya serap/kirim itu yaa.
Dalam rangkaian listrik ( yang selanjutnya akan disebut
dengan RL), jenis arus terbagi menjadi dua, Sob, yaitu arus searah atau DC dan
arus bolak-balik atau AC.
Kalau arus DC atau Direct Current, arus yang mengalir
nilainya konstan terhadap waktu. Kayak gini ini gambarnya:
Nah kalau AC atau Alternating Current, nilai arusnya
berubah-ubah, Sob. Bentuknya bisa jadi seperti sinusoidal. Macem gini nih
gambarnya:
Kemudian, langsung aja yaa ke daya serap dan daya kirim.
Jadi gini, dalam sebuah rangkaian pastinya kan ada banyak
komponen. Tiap komponen itu ada yang menyerap daya dan ada juga yang melepaskan/mengirimkan
daya. Jika ada komponen yang mengirimkan daya, maka akan ada komponen yang
menyerap daya tersebut. Istilah bahasa sononya:
1.
Absorbing Power / Daya yang diserap
Daya yang diserap berarti, arus listrik menuju titik
positif dari komponen tersebut.
Dimana P = +vi
2.
Suplaying Power / Daya yang dilepas
Daya dilepaskan berarti, arus listrik menuju ke titik
negatif dari suatu komponen.
Dimana P = - vi
Paham teu?
Kalau belum, ayo kita lihat contoh berikut ini:
Yap betul bagi yang bener :D Gambar di itu adalah gambar
rangkaian yang mengirimkan daya
Lanjut lagi ke gambar yang ini
Gambar yang kedua ini, menyerap atau mengirim daya?
Yahh salah (bagi yang salah. haha). Ini gambar komponen
yang menyerap daya.
Oke, dua contoh udah lah yaa,, sudah sedikit bisa kan?
Sekarang kita lanjut ke hitung-hitungannya. Kalau
misalkan ditanya. Berapakah daya pada komponen di gambar pertama? Jawabannya
adalah P = - vi = - (6 x 3) = -18 W
Dan kalau gambar kedua, jawabannya P = 20 W (tahu kan
caranya)
Yaa kurang lebih seperti itu. Itu masih yang daassaaaaarrr
banget. Sebenernya adalah lagi yang bentuk rangkaian seperti ini:
Yang ditanyakan adalah berapakah daya di tiap komponen.
Jawabannya :
P1 = -100W
P2 = 60 W
P3 = 48 W
P4 = - 8 W
Untuk caranya, silahkan dicari sendiri, sekalian buat
latihan.
Ohya, ini ada contoh lain juga:
Tapi kalau yang ini, saya belum cari jawabannya berapa nilai P di setiap komponen. Mungkin
ada yang mau share jawaban (bagi yang sudah dapat)
Semoga bermanfaat :)
Subscribe to:
Posts (Atom)









