Aku tidak ingin Kalimantan,
Cirebon, Surabaya, Klaten,
Aku tak ingin Malang dan Turki
Aku hanya ingin mimpiku..
Aku hanya ingin impianku..
Biarkan impianku yang membawaku kesana..
Jikapun tidak, aku tak peduli..
Impianku.. I can catch it..
Mimpi itu masih ada
Bara itu masih merah
Masih cukup untuk diletupkan
Menjadi api
Yang menghangatkan
Namun juga dapat membakar..
Apapun pasti ada resikonya..
Kamu ambil resiko, kamu mungkin gagal
Tapi kalau kamu ga ambil resiko itu, kamu sudah pasti gagal
Biarlah...
Kucoba..
Akan kuusahakan..
Yang disana..
Bantulah aku,
dengan doamu.. dengan semangatmu.. dengan senyummu.. dengan kata motivasimu..dan dengan kepercayaanmu..
:)
Wednesday, February 20, 2013
I Won't Give Up - Jason Mraz
This lyric...
Kekeraskepalaan
Keyakinan
Keteguhan
Kemudian menyatu, menjadi untaian kata-kata yang (harus saya akui) so sweet..
Jason Mraz, I Won't Give Up
Jason Mraz - I Won't Give Up
Powered by mp3skull.com
Kekeraskepalaan
Keyakinan
Keteguhan
Kemudian menyatu, menjadi untaian kata-kata yang (harus saya akui) so sweet..
Jason Mraz, I Won't Give Up
When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?
Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.
Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?
Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.
Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Jason Mraz - I Won't Give Up
Powered by mp3skull.com
Review Buku: Breaking The Time
Mari kita mulai postingan ini dengan membaca Basmallah..
Bismillahirrahmairrahiim...
Aku baru-baru ini habis baca buku motivasi yang inspiratif banget. Judulnya, Breaking The Time karya Satria Hadi Lubis. Allah mempertemukan aku dengan buku ini pasti ada hikmahnya. Saat liqo pekan lalu, salah satu materi yang dibawakan oleh temanku (saat itu lagi latihan ngisi mentoring gitu) adalah tentang manajemen waktu. Salah satu buku yang ia jadikan referensi materinya adalah buku ini. Setelah dia membawakan materi dengan sangat baik, aku pinjam saja bukunya. Then now, hidupku menjadi lebih hidup sekarang, semoga hingga akhir hidupku nanti, semangat ini slalu membara ^_^
Kita mulai ya review bukunya..
This book is all about, how you can manage your time in your life, to catch your Life Mission (Misi Hidup).
Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita memiliki misi hidup?
Sudahkah keputusan-keputusan hidup yang kita ambil selama ini mendekatkan kita pada tercapainya misi itu?
*pertanyaan2 yang berhasil menampar keras2 pipiku
Hidup cuma sekali, kalau hanya dihabiskan untuk menghabiskan waktu (tanpa ada sesuatu yang ingin dicapai) sayang sekali, Kawan. Kuncinya adalah waktu. Sehingga kita dapat mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup yang cuma sekali-sekalinya ini (didunia).
Pengaturan waktu yang biasa dikenal dengan manajemen waktu, dalam buku ini dibagi menjadi 5 tahap.
(*yang kesemuanya mesti urut)
1. Membuat Misi
2. Menentukan Peran
3. Membuat Visi Peran
4. Membuat Rencana Pekanan
5. Membuat Rencana Harian
Dalam postingan yang lain akan aku jelaskan masing2 dari poin itu, tapi ga semuanya..
Sehubungan dengan tujuan hidup, Kawan. Ternyata terbagi menjadi 4 macam, yang mungkin salah satunya adalah kita.
1. Orang yang tidak tahu tujuan hidupnya
2. Orang yang tahu tujuan hidupnya, tapi tidak tahu cara untuk mencapai tujuan hidupnya itu
3. Orang yang tahu tujuan hidupnya dan tahu juga cara untuk menraih tujuan hidupnya itu
4. Orang yang tahu tujuan hidupnya yang benar dan tahu juga cara untuk meraih tujuan hidupnya itu
Wahh... Tipe yang mana kah kamu? :)
Bismillahirrahmairrahiim...
Aku baru-baru ini habis baca buku motivasi yang inspiratif banget. Judulnya, Breaking The Time karya Satria Hadi Lubis. Allah mempertemukan aku dengan buku ini pasti ada hikmahnya. Saat liqo pekan lalu, salah satu materi yang dibawakan oleh temanku (saat itu lagi latihan ngisi mentoring gitu) adalah tentang manajemen waktu. Salah satu buku yang ia jadikan referensi materinya adalah buku ini. Setelah dia membawakan materi dengan sangat baik, aku pinjam saja bukunya. Then now, hidupku menjadi lebih hidup sekarang, semoga hingga akhir hidupku nanti, semangat ini slalu membara ^_^
Kita mulai ya review bukunya..
This book is all about, how you can manage your time in your life, to catch your Life Mission (Misi Hidup).
Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita memiliki misi hidup?
Sudahkah keputusan-keputusan hidup yang kita ambil selama ini mendekatkan kita pada tercapainya misi itu?
*pertanyaan2 yang berhasil menampar keras2 pipiku
Hidup cuma sekali, kalau hanya dihabiskan untuk menghabiskan waktu (tanpa ada sesuatu yang ingin dicapai) sayang sekali, Kawan. Kuncinya adalah waktu. Sehingga kita dapat mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup yang cuma sekali-sekalinya ini (didunia).
Pengaturan waktu yang biasa dikenal dengan manajemen waktu, dalam buku ini dibagi menjadi 5 tahap.
(*yang kesemuanya mesti urut)
1. Membuat Misi
2. Menentukan Peran
3. Membuat Visi Peran
4. Membuat Rencana Pekanan
5. Membuat Rencana Harian
Dalam postingan yang lain akan aku jelaskan masing2 dari poin itu, tapi ga semuanya..
Sehubungan dengan tujuan hidup, Kawan. Ternyata terbagi menjadi 4 macam, yang mungkin salah satunya adalah kita.
1. Orang yang tidak tahu tujuan hidupnya
2. Orang yang tahu tujuan hidupnya, tapi tidak tahu cara untuk mencapai tujuan hidupnya itu
3. Orang yang tahu tujuan hidupnya dan tahu juga cara untuk menraih tujuan hidupnya itu
4. Orang yang tahu tujuan hidupnya yang benar dan tahu juga cara untuk meraih tujuan hidupnya itu
Wahh... Tipe yang mana kah kamu? :)
Friday, January 11, 2013
This week
Manusia hanya bisa berencana daannn keputusan akhir menjadi hak prerogatif Tuhan.
Satu minggu yang lalu aku dapat kabar soal pendaftaran sidang periode ini yang katanya sampai ada 3 shift (*amaziingg banget). Karena jarang-jarang banget sampe ada tiga shift gini. Sampai dipekan pembukaan semua berjalan lancar, sampai akhirnya...
Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, bukan lagi sesuai rencanaku.
Hari Kamis yang awalnya jadwalku daftar, ternyata buku baru selesai direvisi hari itu,, karena malam sebelumnya ada masalah yang membuat pikiran jadi ga fokus.
Ternyata bukan itu aja, dihari itu juga nyeri perut menyerang, kondisi jadi ga fit banget apalagi habis begadang dan siang pada hari itu habis jatuh dari motor.
Ditambah mesti caoo ke tempat magang dalam kondisi uncontrolled harus mengendarai motor ke jarak yang lumayan.
Wahh... amaziing! hari itu terlewatkan juga. Dengan angka kesuksesan atas rencana hanya 10%.
Dan aku mulai mencoba lagi mewujudkan rencana. Namun nampaknya, masih belum fix sama rencananya Allah. :)
Hari ini aku sudah berusaha semaksimal dan yang terbaik yang aku bisa. Kalau memang tetap tidak berhasil, bukan kondisi yang salah, dan bukan Tuhan yang salah. Tapi aku. Usahaku mungkin bukan yang terbaik yang aku punya. Usahaku belum semaksimal yang aku bisa. Intinya, kamu harus yakin,
"Kalau usaha belum maksimal dan tujuan tidak tercapai, maka itu salahmu"
"Ketika usahamu kamu pikir sudah cukup maksimal dan yang terbaik yang kamu bisa, jangan salahkan takdir,, apalagi salahkan Tuhan. Yakin saja, ini rencana dari-Nya. Yakin yang terbaik selalu Dia Berikan untuk kita."
MOVE ON !
Satu minggu yang lalu aku dapat kabar soal pendaftaran sidang periode ini yang katanya sampai ada 3 shift (*amaziingg banget). Karena jarang-jarang banget sampe ada tiga shift gini. Sampai dipekan pembukaan semua berjalan lancar, sampai akhirnya...
Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, bukan lagi sesuai rencanaku.
Hari Kamis yang awalnya jadwalku daftar, ternyata buku baru selesai direvisi hari itu,, karena malam sebelumnya ada masalah yang membuat pikiran jadi ga fokus.
Ternyata bukan itu aja, dihari itu juga nyeri perut menyerang, kondisi jadi ga fit banget apalagi habis begadang dan siang pada hari itu habis jatuh dari motor.
Ditambah mesti caoo ke tempat magang dalam kondisi uncontrolled harus mengendarai motor ke jarak yang lumayan.
Wahh... amaziing! hari itu terlewatkan juga. Dengan angka kesuksesan atas rencana hanya 10%.
Dan aku mulai mencoba lagi mewujudkan rencana. Namun nampaknya, masih belum fix sama rencananya Allah. :)
Hari ini aku sudah berusaha semaksimal dan yang terbaik yang aku bisa. Kalau memang tetap tidak berhasil, bukan kondisi yang salah, dan bukan Tuhan yang salah. Tapi aku. Usahaku mungkin bukan yang terbaik yang aku punya. Usahaku belum semaksimal yang aku bisa. Intinya, kamu harus yakin,
"Kalau usaha belum maksimal dan tujuan tidak tercapai, maka itu salahmu"
"Ketika usahamu kamu pikir sudah cukup maksimal dan yang terbaik yang kamu bisa, jangan salahkan takdir,, apalagi salahkan Tuhan. Yakin saja, ini rencana dari-Nya. Yakin yang terbaik selalu Dia Berikan untuk kita."
MOVE ON !
Friday, December 28, 2012
Tolong Aku: Mereka Mencuri Tanah Kami
Malam itu dingin begitu menusuk. Ibuku, sedang berada didapur, membuatkan teh hangat untuk kami sekeluarga. Ayah sedang membaca buku tebal yang baru saja tadi siang ia baca. Kakak-kakakku sedang mengerjakan tugas sekolah. Dari tadi sibuk dengan buku dan alat hitungnya. Sedangkan aku disini bersama Yuan, ia boneka kecilku pemberian dari nenek sewaktu beliau masih hidup 2 tahun lalu.
Ibu memanggil aku dan kak Aishaa untuk membantunya membawa minuman ke ruang tengah. Aku dan kak Aisyah segera menghampiri ibu dengan sedikit berlari. Aku disuruh membawa piring kue dan kak Aisyah membawa gelas, sedangkan seteko teh hangat ibu yang membawakannya. Kami membawa teh itu ke ruang tengah. Ayah dan kak Hafidz menyambut kedatangan kami dengan senyuman dan bantuanku menaruh kue dimeja. Ayah kemudian menggendong dan memangku aku sambil mengajakku becanda. Kak Aishaa, Kak Hafidz dan ibu pun tertawa mendengar candaan kami. Malam itu sangat riang sekali. Kami sekeluarga bahagia dalam naungan suasana keluarga yang sangat hangat.
Jam dinding menunjukkan pukul 9.00 malam, ibu, menyuruh aku dan kakak-kakak untuk tidur. Kak Aishaa menggendongku sampai ke dalam kamar. Kemudian mematikan lampu kamarku. Seperti biasa, kak Aishaa tak pernah lupa mendoakanku sebelum aku tidur. "Ya Allah, jagalah adikku, Fatimah dan Hafidz dalam Kuasa-Mu. Jagalah juga Ayah dan Ibuku. Jagalah kami agar tetap utuh memegang teguh agama-Mu. Tak gentar sedikitpun melawan musuh-musuh-Mu. Ya Fattah, hancurkanlah kaum Zionis Yahudi yang mencuri tanah kami, menghancurkan rumah-rumah kami, yang telah membunuh teman-teman kami. Hilangkanlah rasa takut kami kepada mereka, tanamkanlah kegelisahakan dan ketakutan pada diri mereka. Ya Rabb, lindungilah bumi pertiwi kami ini dan jadikanlah kami termasuk ke dalam golongan para syuhada-Mu. Aamiin", doa ka Aishaa. Dan aku mengamini semua doa-doanya yang tak pernah lupa ia ucapkan tiap malam.
Aku mulai memejamkan mataku. Kak Aishaa memcium keningku dan kemudian menutup pintu kamarku.Gelap dan dingin kala itu.
Tiba-tiba aku mendengar suara keras dari luar rumah.
"DDDAARRRRR..." seperti suara tembakan.
Aku tak tahu apa yang terjadi diluar sana. Yang jelas, suara itu benar-benar mengagetkanku. Aku langsung terbangun dan ketakutan. Aku ingin sekali berteriak memanggil ibu dan ayah. Tapi suaraku tak keluar sama sekali. Aku takut. Kamarku gelap. Kemudian tak berapa lama setelah suar tembakan itu, aku mendengar suara orang membentak-bentak. Tapi aku tak tahu apa yang dibicarakan. Aku tak mengenal suara dan bahasa itu.
Orang-orang yang berbicara itu tak memakai bahasaku. Siapa mereka?
Tak berapa lama aku mendengar suara tembakan lagi. Berkali-kali. Suara barang-barang yang jatuh dan pecah. Terdengar juga suara teriakan dari ibu dan kak Aishaa. Teriakan yang begitu keras, terdengar juga tangisan dari mereka.
"Yaa Allah, apa yang terjadi di rumahku??", kataku dalam hati.
Aku juga sempat mendengar suara kak Hafidz bertakbir berkali-kali. Tapi setelah satu tembakan terakhir yang aku dengar malam itu dirumah, aku tak lagi mendengar lantang suaranya bertakbir. Oh Allah, apa yang terjadi di sana? Aku hanya bisa menangis didalam kamar. Aku takut. Tak ada seorangpun yang datang menghampiri kamarku dan menolongku. Suara kemudian sunyi. Aku tak lagi mendengar suara tembakan maupun teriakan lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mulai mengumpulkan keberanianku untuk menapakkan kaki ke tanah dan [ergi ke ruang tengah.
Betapa kagetnya aku, diruang tengah keadaan begitu kacau. Berantakan. Barang-barang pecah dan hancur. Darah dimana-mana. Yang membuatku tak bisa menahan air mata adalah aku melihat sosok seorang yang aku kenal tergeletak bersimbah darah. Aku mengenalnya. Ya, aku mengenalnya, ia adalah ayah. Ya Allah. Aku tak bisa menahan air mataku. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya.
"Ayah... Ayah.. bangunlah ayah!" teriakkan tangisku menghacurkan kesunyian malam itu. Aku kemudian memanggil-manggil ibu, Ka Hafidz, dan Ka Aishaa. Aku terus memanggilnya. Tapi tak ada satupun yang menyambut panggilanku. Aku bingunng saat itu. Apa yang harus aku lakukan. Aku pergi ke kamar ka Aishaa tak ada siapa-siapa. Aku pergi ke kamar ibu pun tak ada siapa-siapa. Kemudian aku pergi ke dapur. Oh Allah, betapa hancurnya aku. Ibu, Ka Aishaa, dan Ka Hafid bersimbah darah dalam kondisi banyak bekas luka tembakan ditubuhnya. Aku berteriak sejadi-jadinya. Keras sekali.
Semuanya telah pergi. Hanya aku sendiri disini. Seorang diri.
Aku tak pernah sebelumnya merasakan kesedihan seperti ini. Kehancuran ini. Seluruh keluargaku mereka ambil. Apa salah ayah, ibu, kak Aishaa dan ka Hafidz? dan apa juga salahku? Mengapa kalian melakukan hal itu pada kami. Apa salah kami? Yang aku tahu, ini adalah rumah kami, tanah kami. Kami tidak sedang menumpang disini. Mengapa kalian terus mengganggu dan mengusik kami? Tak pernah merasa puas dengan apa yang telah kalian perbuat kepada kami. Kalian seperti pencuri yang menjadi tuan dirumah yang kalian curi. Ini tanah kami. Palestina adalah tanah kami. Apa yang kalian lakukan sungguh tidak bisa diterima oleh siapapun, kecuali orang-orang yang sejenis dengan kalian. Jangan curi tanah kami.
Semalaman aku menangis. Tak ada seorangpun yang datang ke rumahku. Sampai matahari menampakkan sinarnya melalui sela-sela jendela. Secara tiba-tiba berdengar suara keras lagi. Yang ini lebiih keras dari yang semalam. Seperti suara bom. Sekali, dua kali, dan kemudian semua hitam, gelap, dan sunyi. Aku tak melihat apapun dan mendengar apapun. Suasana itu lebih damai buatku. Pelan-pelan ada sedikit cahaya yang datang menyingkap mataku. Aku seakan melihat ayah, ibu, kak Aishaa dan kak Hafidz tersenyum hangat kepadaku. Mereka sedang berjalan kearahku. Kemudian mereka berhenti dan kemudian tersenyum. Ayah membacakan sepotong ayat kepadaku dengan indah, dan aku mendengarkannya begitu hikmat.
"Laa tahzan walaa takhof innallaha ma'ana"
(Jangan bersedih dan jangan takut, Sesungguhnya Allah bersamaku)
Kemudian mereka berbalik kebelakang tanpa membawaku pergi bersama mereka. Tanpa mencium keningku seperti yang biasa mereka lakukan ketika mereka akan pergi meninggalkanku saat dahulu. Aku berteriak dan bertanya, akan kemanakah kalian? mengapa tak mengajakku? Tapi teriakanku tak mereka dengarkan. Mereka terus saja pergi meninggalkanku. Hingga gelap itu kembali datang dan aku sadar aku telah dikerumuni banyak orang. Aku tak mengenal siapa mereka. Pakaiannya hijau seperti dokter. Terdengat sesekali teriakan dari anak kecil seusiaku yang menjerit kesakitan. Aku berada dirumah sakit. Aku terkena reruntuhan rumahku akibat bom pasukan zionis yang menghantam rumahku.
Aku tak tahu lagi akan seperti apa nantinya masa depanku. Allah lebih Mencintai keluargaku. Dia Mengambil mereka semua dari sisiku saat ini. Tapi aku yang yakin ini adalah yang terbaik. Karena dulu ibu sering berpesan kepadaku, seseorang yang mati dijalan Allah, sebenarnya ia tidaknya mati, melainkan ia tetap hidup disisi Allah. Aku yakin mereka semua pergi dengan syahid karena membela agama Allah. Dan kini aku pun tak mau tertinggal begitu saja. Aku masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk tetap hidup. Aku berjanji aku akan jadi prajurit Allah yang tangguh. Aku tak akan takut kepada musuh-musuh Allah itu. Akan ku jemput syahid itu untuk Mu adar aku dapat berkumpul kembali dengan keluargaku disurga kelak.
*cerita fiksi
_Gendys Mitasari Adesta_
Subscribe to:
Posts (Atom)